"BERANI MATI atau CEROBOH?"
KH Wahfiudin Sakam
Ada yg menulis:
*Saya tdk takut mati. Mati itu sudah ada takdirnya.*
*** Mengapa kamu menyeberang jalan harus menengok kiri dan kanan? Kenapa nggak langsung menyeberang aja? *Toh soal mati sudah ada takdirnya.*
Persoalannya bukan mati atau tidak mati. Mati akibat wabah penyakit adalah SYAHID! Tak usah diragukan lagi.
Tetapi, persoalan yg kita hadapi adalah:
1. CoViD-19 menyebar lewat kontak dan kerumunan manusia. Selama 5-19 hari orang yg tertular tidak merasakan gejala apapun, maka mereka tetap akan berkeliaran, bergaul, dan ikut menyebarkan CoViD-19 ke keluarga, tetangga, sanak famili, dan teman2.
2. Ketika bbrp pekan kemudian terjadi ledakan wabah di kampungnya, atau lingkungan kerjanya, kemana orang2 yg sakit itu akan pergi?
- Bisa jadi mereka akan ditolak oleh berbagai Rumah Sakit (ini sudah terjadi di banyak tempat), karena RS kekurangan fasilitas: *ruang isolasi, alat pemeriksaan, ventilator, dokter dan perawat, APD, dan obat2an.*
====
Problemnya bukan *mati*, tetapi *penularan penderitaan* yg dialami padahal *tak ada obat/vaksin serta sarana RS dan dokter yg mencukupi*.
- Sekarang pun sudah ada dokter2/perawat2 yg mati dan sakit, karena tertular, atau karena kecapekan bekerja 24 jam.
=====
Anda *tidak takut mati*, tetapi apakah Anda mau menyaksikan dan mengalami:
- keluarga Anda yg sakit digeletakkan di koridor, jalanan, atau halaman rumah sakit, karena banyak pasien tetapi RS kekurangan fasilitas?
- Anda menyaksikan ayah/ibu, kakek/nenek, atau istri dan anak bayimu mengerang menahan sakit, menggelepar dalam sakaratul maut tanpa bantuan obat dan alat kesehatan; menahan sesak di dada karena kekurangan tabung oksigen dan ventilator; berteriak sakit dan megap-megap, lalu mati dan mayatnya dibungkus plastik (tidak dimandikan), tak ada orang berani datang ngelayat, lalu dikuburkan dengan dikerek turun ke lubang kubur tanpa diantar orang banyak?
- Selama istrimu sakit, siapa yg akan mengurus anak2mu di rumah, mengantar mereka ke sekolah?
- Siapa yg akan memasak, mencuci perabotan dapur, alat makan, mencuci pakaian dan menyetrikanya?
- Siapa yg harus mengurus ladang, atau toko/dagangan di pasar? Siapa yg harus mencari nafkah?
- Dari mana ongkos utk mondar-mandir dari rumah di kampung ke RS di kota? Itu pun kalau tertampung di RS?
- Kalau pasien harus diurus di rumah, siapa yg akan mengurusnya? Tetangga? Menjenguk pun mrk tak akan berani?
- Apalagi kalau semua itu terjadi di bulan Ramadhan (yg sebentar lagi akan tiba)?
======
Maka berfikir panjanglah dalam memberikan komentar.
Anda berani mati, silakan mati duluan.
- Tetapi bagaimana dengan penderitaan istri, anak2, dan orang tuamu yg sudah tua renta?
Sebenarnya Anda orang *berani mati* atau orang *ceroboh yang tidak bertanggung jawab?*
0 Response to "Berani Mati Atau Ceroboh?"
Post a Comment